Kelima, mengundang bahaya. Bahaya-bahaya dunia dan akhirat lebih cepat menimpa kepada orang yang dirudung cinta buta melebihi kecepatan api membakar kayu kering. Ketika hati berdekatan dengan orang yang dicintainya secara buta itu, ia akan menjauh dari Allah. Jika hati jauh dari Allah, semua jenis marabahaya akan mengancamnya dari segala sisi karena setan menguasainya. Jika setan telah menguasainya, maka mana ada musuh yang senang lawannya senang? Semua musuh ingin musuhnya dalam bahaya. Duh, jangan sampe kejadian. Cukup fakta-fakta soal perzinaan dan penularan penyakit seksual itu menjadi perhatian bagi kita untuk nggak melakukan hal yang sama.
Keenam, setan akan menguasai. Jika kekuatan setan menguasai seseorang, ia akan merusak akalnya dan memberikan rasa was-was. Bahkan, mungkin tak ada bedanya dengan orang gila. Mereka nggak menggunakan akalnya secara layak. Padahal yang paling berharga bagi manusia adalah akalnya yang membedakan ia dengan binatang. So, nggak heran kalo banyak yang terjerumus berbuat maksiat karena mikirnya instan banget. Cuma kepikiran enak aja menurut hawa nafsunya. Nggak mikir jauh ke depan soal besok dan akibat dosa tsb.
Ketujuh, mengurangi kepekaan. Cinta buta akan merusak indra atau mengurangi kepekaan, baik konkrit maupun abstrak. Kerusakan indra maknawi atau abstrak mengikuti rusaknya hati, sebab jika hati telah rusak, maka organ pengindra lain turut rusak. Artinya ia akan melihat yang buruk pada diri orang yang dicintainya secara buta itu sbagai sebuah kebaikan dan juga sebaliknya. Disebutkan ole imam ahmad, "Cintamu kepada sesuatu membutakanmu dan membuatmu tuli."Ibnu Abbas pernah mendengar berita ada seorang laki-laki yang sangat kurus sehingga yang tersisa hanya kulit dan tulang. Ibnu Abbas berkata," Kenapa ia?" "Ia terkena jatuh cinta, isyq(cinta buta)", jawab seseorang. Kemudian Ibnu Abbas berdoa dan berlindung kepada Allah sepanjang hari dari penyakit isyq.
Sobat, inilah beberapa kerusakan akibat cinta buta. Cinta buta adalah sesorang yang mencintai secara berlebih, sehingga orang yang dicintainya sudah pada level menguasai dan mengendalikannya. Seperti pada kata pepatah, cinta buta itu awalnya ringan dan manis, pertengahannya sedih, kesibukan dan sakitnya hati dan ujung-ujungnya adalah kebinasaan dan kematian, jika nggak diselamatkan oleh Allah. Jadi, hati-hati deh.
Jatuh cinta sic boleh aja, tapi jangan mengekspresikan jalur yang salah yakni perbuatan yang melanggar aturan Islam, pacaran dan seks bebas. Yuk kita mulai lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak jangan terus bermain-main dalam masalah seserius ini. Kalaupun kita belum mampu untuk menikah, jangan nekat menikah. Karena pernikahan bukan urusan main-main. O Yac, kitapun harus rela untuk membuang jauh-jauh pikiran murah dan murahan tentang pacaran. Sebab pacaran adalah salah satu bagian dari ekspresi cinta buta.
Sobat muslim yang luar biasa, menjadi remaja biasa , maksudnya kita nggak mau menjadi lebih baik, tentunya sangat menyedihkan sekali. Contonya saja nih, uang Rp 10.000kelihatan besar banget bila disedekahin, tapi mudah banget bila dibelikan pulsa. 15 menit tersa banget untuk menunaikan sholat sementara 2 jam sebentar banget untuk nonton acara ksayangan kita di tv. Aneh dan lucu yach ? benar-benar mengherankan
Padahal dengan rajinnya kita ibadah dan bertaqwa itulah yang akan membuat kita bukan manusia biasa di hadapan Allah dan manusia. Allah berfirman :
" Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu" (QS. Al Hujurat :13 )
Imam Syafi'i r.a berkata, " Barangsiapa belajar Al Qur'an maka ia akan agung di pandangan Manusia. Barangsiapa belajar hadist akan kuat hujjahnya. Barangsiapa belajar nahwu maka dia kan dicari. Barangsiapa belajar yang belajar bahasa Arab akan lembut tabiatnya. Barngsiapa belajar ilmu hitung akan banyak pikirannya. Barngsiapa belajar fiqih akan tinggi kedudukannya. Barangsiapa yang tidak mampu menahan dirinya maka tidak bermanfaat ilmunya dan inti dari itu semua adalah taqwa."
Bro n sis, mari kita menjadiremaja yang luar biasa taqwanya, kita harus berusaha dan bangga karena remaja yang bertaqwa itu berat lho. Meski berat dan terpaksa, but kita harus tetap taat demi meraih predikat orang yang bertaqwa dan menjadi the special one.So, pada akhirnya kalo boleh memilih sich, '' lebih baik masuk surga secara terpaksa, daripada masuk neraka dengan kesadaran penuh." Tul ga' sich. ?
Ketajaman Otak Pun Bisa Dilatih
Semakin bertambah tua, tidak dapat kita pungkiri kapasitas ingatan kita semakin berkurang. Kita mulai sering lupa. Seperti misalnya nama-nama orang atau di mana kita meletakkan barang. Tapi bertambah tua bukan berarti selalu berkurangnya daya ingat. Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk membuat ingatan tetap tajam. Simak yang satu ini:
Melatih Otak Kiri:
Otak kiri diyakini berfungsi untuk mengontrol logika, bahasa dan kemampuan berhitung. Untuk membuatnya berjalan dengan kapasitas penuh, coba dengarkan bahasa baru atau bermain teka-teki. Sudoku salah satu pilihan bagus.
Melatih Otak Kanan
Otak kanan berfungsi untuk membangun kreativitas. Pertahankan agar tetap tajam dengan belajar musik, belajar sesuatu yang baru atau menekuni hobi baru. Bahkan ikut bernyanyi dalam paduan suara juga dapat membantu.
Melatih Keseluruhan Otak
Belajar meditasi. Melakukan meditasi membantu mengurangi tingkat stres dan kegelisahan. Dengan cara ini pula dapat membantu mengontrol pusat otak untuk terus merasa gembira dan senang.
Praktekkan kemampuan daya ingat
Ingat saat Anda masih kecil dan dengan mudah mengingat segala hal, bahkan pelajaran menghafal nama-nama menteri dalam pemerintahan. Ingatan Anda tumbuh dengan subur saat Anda mempraktekkan ketrampilan mengingat.
Aktif Dalam Kegiatan Sosial
Dengan kehidupan sosial yang sibuk dapat mengurangi kemunduran ingatan.KapanLagi.comETIKA PERGAULAN DALAM ISLAM
I. Konsep Pergaulan
Gaul, campur, kenal: kata “gaul” verba intransitifnya adalah bergaul bererti hidup berteman dalam masyarakat; berkawan akrab. Saya sudah dua tahun bergaul dengan orang itu. Perkataan campur iaitu, bercampur bererti berkumpulnya orang-orang menjadi satu seperti: Tua muda, besar kecil, laki-laki wanita bercampur menjadi satu dalam pesta itu. Kenal berarti mengerti dan pernah mengetahui seseorang. Sudah berapa lama kamu mengenal dia?.
Sebenarnya dalam Islam tidak ada istilah "pergaulan bebas", sebab secara fitrah manusia memiliki keharusan untuk bergaul dalam interaksi sosial yang merupakan sunah sosial dan kehidupan itu sendiri. Namun setelah masuknya budaya asing -ke dalam pergaulan masyarakat muslim- yang dibentuk oleh kecenderungan material semata-mata dan falsafah hidup yang lahir dari bumi dan hawa nafsu, maka Islam menamakannya sebagai pergaulan bebas, bebas dari tuntunan wahyu, moral dan fitrah.
Jika kita berbicara masalah pergaulan pada era globalisasi saat ini memang sangat rumit. Dalam erti yang lain, kita hidup dengan manusia yang mempunyai prinsip dan pandangan hidup yang berbeza, bahkan masyarakat di kota-kota besar dapat dikatakan memiliki kecenderungan hidup bebas. Terkadang dengan kondisi seperti itu, kita menghadapi sebuah dilema bagaimana menempatkan diri dalam dunia pergaulan agar kita sebagai muslim dapat diterima oleh lingkungan, tetapi keyakinan atau syariat Islam pun tetap terjaga.
Sebetulnya, kaedah yang paling tepat dalam pergaulan, khususnya dengan lawan jenis (berbeza jantina) adalah pandai-pandai menempatkan diri dan menjaga hati (bergantung kepada penilaian iman dalam situasi berkenaan). Usahakanlah untuk mengerti situasi bila kita harus serius dan bila harus santai, "think before you act" sangatlah penting.
Meskipun demikian, menjaga etika pergaulan seperti menundukkan pandangan adalah sangat dianjurkan (wajib hukumnya, dalam erti kata, tidak meihat dengan syahwat). Namun inti dari ajaran ini adalah bagaimana kita menjaga kebersihan dan kesucian hati. Istilahnya, untuk apa kita menundukkan pandangan atau menghindar dari pertemuan dengan lawan jenis jika hati tidak kita tundukkan?
Allah Swt berfirman:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ (غافر :19)
“Dia (Allah) Mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”. QS. 40:19
Semua tergantung pada niat kita. Contohnya, dalam suasana kerja atau organisasi di mana kita dituntut untuk berinteraksi dengan orang banyak, baik laki-laki atau wanita, kita tentu saja diperbolehkan mengadakan kontak dengan lawan jenis (berbeza jantina, lelaki dengan perempuan). Pada prinsipnya, jika maksud kita untuk kebaikan dan batasan-batasan syariat tetap dijaga, semuanya dibolehkan dalam Islam. Islam tidaklah pernah bertujuan untuk mempersulitkan sesuatu, tapi justru mempermudahkan hidup kita. Segala yang disyariatkan sudah barang tentu demi kebaikan umat manusia.
Demikian halnya dengan seruan ditetapkannya legalitas (undang-undang kenegaraan misalnya) tidak menutup muka wanita serta penyertaan mereka dalam kehidupan sosial bersama laki-laki (seperti dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan sebagainya yang sesuai denga tanggungjawab sosial sebagai wanita) dengan menjaga batasan-batasan syariat adalah seruan kepada hidayah, dan hidayah Allah Swt itu membawa kemudahan bagi manusia. Bukan seperti dua kelompok yang kesulitan memahami seruan hidayah ini:
Pertama, kelompok yang mengharamkan terbukanya wajah wanita dan segala bentuk penyertaan wanita dalam pelbagai kondisi, walau ia sangat memerlukan dan diperlukan serta telah menjaga batasan syariat. Barangkali mereka lupa terhadap satu peringatan Nabi saw.:
“Bahwa mengharamkan yang halal sama seperti menghalalkan yang haram”, HR. Athabarani, keduanya dianggap melampaui batas syariat.
Sedang Rasulullah saw. ketika mensunahkan (membenarkan akan syariat) terbukanya wajah wanita dan penyertaan mereka dalam kehidupan sosial (sesuai dengan tanggungjawab sosial mereka), Baginda saw menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin, karena hal itu akan mempermudahkan pergaulan mereka dalam kehidupan yang positif dan serius, serta membuka pintu aktiviti soleh untuk wanita, mulai dari menuntut dan mengajarkan ilmu, membantu kerja suami yang lemah, hingga andil dalam kegiatan sosial atau politik yang dapat mendukung perkara positif, konsruktif sekaligus melawan kerosakan, penyimpangan dan lain-lain.
Kedua, kelompok yang menentang syariat. Dalam pergaulan mereka senantiasa senang berbuat urakan, bercampur bebas tanpa batas dan aturan kesopanan, berpakaian mini dan setengah telanjang, ketat dan jarang. Maka, pergaulan dan perjumpaan seperti ini sering membuat mereka menderita, kerana di samping terkena murka Allah Swt, mereka terjerumus ke dalam berbagai penyakit sosial seperti yang dideritai oleh masyarakat Barat.
Kedua kelompok tersebut sama-sama bingung dalam menempatkan diri mereka di dalam dunia material yang serba maju ini. Oleh karena itu, sebagai muslim yang merasa dirinya beriman, harus memahami etika pergaulan, penyertaan dan perjumpaan laki-laki dan wanita yang telah ditetapkan Islam dalam kehidupan sosial.
Etika sempurna; etika yang dapat melindungi moral serta tidak merusak kehidupan yang baik. Etika yang dapat menumbuh kembangkan kebaikan dan kebajikan, menjauhi kemunkaran dan menjinakkan potensi untuk berbuat buruk, adalah etika luhur yang dapat memperkaya kesihatan psikologi laki-laki dan wanita secara sempurna. Kerana di satu sisi tidak terjadi perlecehan, pelanggaran dan rangsangan seksual terhadap lawan jenis, dan di sisi lain bukanlah sebuah pelarian, tindakan berlebihan, perasaan malu yang bukan pada tempatnya dan alergi terhadap lawan jenis.
Jika dalam etika Islam ini ada perhatian yang lebih kepada muslimah -ketimbang muslim-, baik dalam berpakaian, bicara atau gerak-gerik dan lain-lain, hal itu karena wanita lebih banyak menanggung beban dalam merealisasikan kemaslahatan dan kepentingan hidup dalam pergaulan serta bermasyarakat. Sebab jika banyak kemaslahatan dan kepentingan, pertemuan pun menjadi banyak. Sebaliknya jika kepentingan itu sedikit, pertemuan pun menjadi sedikit.
(Nukilan dan dari buku Cinta di Ambang Perkahwinan karangan guru kami, Sheikhuna Sidi Abu Muhammad Rohimuddin bin Nawawi Al-Banteni, Khalifah Tarikat Sheikhuna Sidi Yusuf Al-Hasani (tarikat As-Syazuliyah Ad-Darqowiyah, merangkap salah seorang tenaga pengajar di Ma'ahad Az-Zein di Bogor (ma'ahad Sheikh Nuruddin Al-Banjari). Semoga Allah s.w.t. memanfaatkan kita dengan ilmu beliau dunia dan akhirat-amin...)
Septinus dan Ikon Remaja Indonesia
Lanjar Sumarno (Program Teknologi Agribisnis, IPB)
Seandainya Oge sepopuler Marshanda atau Roger Danuarta -- dua ikon bintang remaja Indonesia -- niscaya masa depan Indonesia akan cemerlang. Tapi sayang, Oge -- nama panggilan Septinus George Saa, juara pertama dalam lomba First Step to Nobel Prize in Physics (FSNPP) di Polandia tahun 2004 -- hanya terkenal di antara para remaja yang "sepi" -- remaja yang menggeluti dunia iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang kurang gaul.
Popularitas Oge di mata remaja, memang jauh di bawah Marshanda dan Roger Danuarta. Tapi jika kita melihat prestasi Oge di dunia iptek, siapa pun akan tercengang, kagum, dan bangga. Beta tidak! Seorang remaja dari sebuah SMUN 3 Buper, Jayapura, yang letaknya di "ujung timur" Indonesia yang sering dianggap sebagai wilayah terbelakang tiba-tiba menyajikan sebuah paper berjudul "Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor" di hadapan para pakar fisika kelas wahid dunia di Polandia. Dan paper Oge ternyata membuat para pakar fisika itu terkagum-kagum karena orisinalitas dan inovasinya. Tanpa menunggu pemeriksaan paper lain dari 30 negara, para juri langsung menentukan: paper karya Oge dari Indonesia adalah yang terbaik dan berhak mendapat kehormatan tertinggi untuk ajang FSNPP. Di dunia fisika, penemuan rumus untuk mengkalkulasi daya tahan antara titik-titik acak dalam kisi-kisi heksagonal yang dipaparkan Oge, merupakan penemuan baru yang akan membuka cakrawala lebih luas pada dunia fisikaelektro.
Remat versus remap
Di tengah keprihatinan dunia pendidikan remaja di perkotaan yang rajin tawuran dan menenggak obat terlarang, munculnya remaja seperti Oge sungguh membawa oase yang amat indah. Kenapa? Karena remaja tawuran (remat) yang kini makin besar jumlahnya ternyata tak mampu menenggelamkan remaja prestasi (remap) yang jumlahnya amat kecil. Padahal dalam teori budaya, mayoritas niscaya akan 'mengkremus' minoritas. Itu berarti remat akan punya pengaruh besar dan menenggelamkan eksistensi remap. Tapi apa kenyataannya? Remap justru muncul di mana-mana, bahkan di pelosok Indonesia timur yang jauh dari gebyar ibu kota. Ini terbukti ketika tahun 1999, remaja Bali I Made Agus Wirawan berhasil meraih Medali Emas untuk International Physics Olympiad dan Septianus George Saan meraih prestasi emas dalam The First Step to Noble Prize in Physics. Dalam lima tahun terakhir, puluhan remaja Indonesia dari desa pun berhasil memenangkan Olimpiade Matematika, mengalahkan counterpart mereka dari berbagai negara maju.
Selama ini, banyak tokoh masyarakat yang mengkhawatiran bahwa lima tahun mendatang dominasi remat makin besar sehingga para remap yang serius akan tergilas. Teori budaya juga mengatakan, negara-negara dunia ketiga hanya bisa meniup "busa-busa" negatif dari kemajuan negara-negara dunia pertama. Contohnya dunia koplo, seks bebas, dan minuman keras yang merupakan ekses negatip penduduk negara maju, kini makin banyak ditiru penduduk negara berkembang. Sementara, keseriusan belajar dan mengembangkan penelitan iptek di negara maju yang positif justru tidak ditiru negara berkembang. Akibatnya: negara-negara maju makin jauh meninggalkan negara-negara berkembang dalam ipteknya, sementara kerusakan moral dan fisik remaja-remaja negara berkembang makin serius dan mengalahkan kerusakan remaja-remaja dunia maju.
Asumsi tersebut sedikit banyak mungkin ada benarnya. Kita bisa melihat bagaimana "kerusakan" remaja negara-negara berkembang yang -- menurut pakar pendidikan Winarno Surachmad -- merupakan perwujudan dari kerusakan moral masyarakatnya. Istilah yang berkembang di masyarakat Indonesia seperti pejabat korup, politisi busuk, rezim otoriter, hakim suap, dan lain-lain merupakan manifestasi dari keboborokan moral bangsa ini yang nyaris tak ada solusinya. Dampaknya: masyarakat, tak terkecuali remajanya, ikut mengalami kerusakan moral.
Namun demikian, di tengah meluasnya kerusakan itu, masih ada cahaya yang menyembul. Remaja-remaja di daerah -- seperti ditunjukkan Septinus dan I Made -- telah mencoba memperbaiki moral masyarakat dengan caranya sendiri: mengukir prestasi iptek tingkat internasional. Keberhasilan kedua putra Indonesia itu, sungguh merupakan "oase" sejuk untuk menumbuhkan gairah dan kepercayaan diri remaja dan bangsa Indonesia. Rasanya sangat tepat bila remaja-remaja berprestasi macam Septinus dan I Made diberikan penghargaan yang sepadan -- seperti halnya penghargaan yang diperoleh Marshanda dan Roger -- untuk memacu kreativitas remaja Indonesia dalam pengembangan iptek.
Persoalannya: bisakah masyarakat yang rusak ini menghargai prestasi iptek dari pribadi-pribadi yang sepi dan rendah hati ini? Pertanyaan ini penting mengingat selama ini apresiasi masyarakat terhadap pengembangan iptek amat rendah. Lihatlah politisi, birokrat, dan pengusaha Indonesia. Mereka lebih suka jadi "makelar" ketimbang kreator iptek. Nasib industri pesawat terbang nasional, industri kereta api, industri galangan kapal, dan berbagai industri strategis lain yang sarat muatan iptek, jadi memelas. Pemerintah, politisi, dan pengusaha lebih suka ramai-ramai membeli produk-produk iptek luar negeri agar mereka dapat "rente" dan "selisih" yang besar, yang kemudian dapat direkayasa laporan keuangannya. Mental-mental makelar inilah yang kini mendominasi cara pandang masyarakat Indonesa. Di masyarakat yang demikian, percayalah, nasib para kreator dan invator iptek dalam negeri akan tergilas.
Dari perspektif tersebut, kita dapat melihat bahwa persoalan lemahnya pengembangan iptek di Indonesia bukanlah terletak pada sumber daya manusianya. Tapi lebih pada mentalitas masyarakatnya. Kita masih ingat apa yang pernah dikatakan Prof Dr Ryoji Noyori, pemenang hadiah Nobel Kimia 2001 dari Universitas Nagoya, Jepang, saat berbincang-bincang tentang prestasi ilmuwan Indonesia di Jakarta awal Februari lalu. Kata Noyori bangsa Indonesia sebetulnya punya kemampuan otak yang brilian. Banyak mahasiswa Indonesia di Jepang yang prestasinya sangat gemilang dan menghasilkan penelitian skala nobel. Tapi sayang, begitu pulang ke tanah airnya, prestasinya berhenti. Iklim dan atmosfer Indonesia ternyata tak mendukung para ilmuan yang brilian. Akibatnya: pengembangan teknologi di Indonesia pun tersendat.
Kembali pada prestasi "nobelis" fisika yang dicapai remaja Septinus tadi! Seandainya, ya seandainya pemerintah Indonesia berusaha menciptakan sebuah kondisi di mana orang seperti Septinus bisa jadi ikon remaja yang tak kalah hebatnya dengan ikon selebritis seperti Marshanda, niscaya akan timbul kegairahan para remaja untuk belajar serius iptek. Tak ada susahnya bagi pemerintah menciptakan ikon semacam itu. Pemerintah punya uang, punya TVRI, punya teknologi komunikasi yang semuanya bisa direkayasa untuk menciptakan ikon iptek. Yang penting ada niat dan kemauan. Tanpa visi dan misi untuk mengembangkan iptek demi kemajuan negara di masa depan, percayalah bangsa ini akan makin tertinggal makin jauh dari bangsa-bangsa lain.


